- Back to Home »
- Inspirasi , Kreativitas , Motivasi »
- Kreativitas Itu Antik Dan Langka
Posted by : Unknown
Senin, 23 Januari 2017
Banyak orang yang mementingkan penampilan, karena bisa jadi dengan penampilan seseorang akan membuat pandangan atau persepsi orang lain berubah menjadi baik. Sesungguhnya untuk membuat orang menjadi terinspirasi bukan cuma dengan penampilan saja, tetapi dengan kita memiliki yang namanya "Kreativitas".
Ketika salah kaprah dalam pengertian kreativitas maka akan membuat kita menjadi pribadi yang kurang kreatif.
Gejala kreativitas pertama diwarnai oleh lancarnya ide pemecahan masalah diproduksi dalam proses berpikir seseorang. Apapun bentuk idenya yang penting ide itu keluar tanpa hambatan dan keraguan.
Ide kreatif tidak selamanya harus orisinil, pengembangan dari ide orang lain, juga boleh, atau integrasi dari beberapa ide orisinil pun sudah bisa disebut dengan kreatif.
Hal yang juga sering dilupakan adalah bahwa orang yang kreatif sanggup melihat esensi masalah dengan jitu.
Lah kenapa begitu ?
Kreativitas ini bagaikan barang antik, karena semakin dicari maka kreativitas terasa semakin langka. Butuh upaya, teknik, dan dukungan lingkungan untuk 'melahirkan' dan 'menyuburkan' orang-orang yang kreatif.
Setuju ?
Saya mengerti bisa jadi ada dari sebagian dari anda tidak setuju dengan pendapat saya, tetapi apakah setiap manusia selalu memiliki kreativitasnya, bahkan disetiap kegiatannya? Tentu saja tidak bukan.
Berpikir 'BISA'
Hambatan utama bagi tumbuhnya kreativitas adalah mindset. (Pikiran Kita). Ketika kita mengatakan :
“tidak mungkin...”,
“tidak ada yang pernah coba”,
“saya tidak kreatif..”.
Satu-satunya jalan untuk membongkar semua penyakit itu adalah dengan membuka kunci pikiran kita.
Ganti mindset baru yang selalu mengatakan 'BISA' dan gunakan kalimat positif yang membuka jalan kearah kreativitas, seperti ;
- Pasti ada jalan lain
- Kita cari jalan keluar
- Selalu ada solusi
Ketika kita ingin maju dan terus berkembang, maka kita harus menguasai 1 tekhnik yaitu "Berani Ambil Resiko, Trampil Hitung Resiko".
Manusia memang tidak mau rugi, tidak ingin sakit. Namun, sikap yang perlu kita bangun untuk mengasah kreativitas adalah sikap untuk mau menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Berkali-kali Pak Tungdesem menyampaikan pemikirannya bahwa "Tidak Ada kata gagal yang ada hanya sukses atau belajar". Bersikap kompromi terhadap kesulitan, dan berani mengambil resiko terhadap kemungkinan kegagalan dengan mempersiapkan segalanya terlebih dahulu.
Kita sangat perlu menggunakan teknik-teknik dalam menghitung resiko, agar terhindar dari membuat kesalahan yang 'konyol' atau kesalahan yang berulang-ulang.
Cobalah menghitung berdasarkan waktu yang paling singkat, biaya yang paling murah, kerugian yang bersedia ditanggung, dan bersikap antisipatif dengan membuat rencana cadangan dan alternatif tindakan. Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya belajar dan mengambil pelajaran dari kesalahan yang dibuat.
Saya jadi ingat sebuah kalimat bijak ;
"Orang yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah mencoba . Jika Anda tidak pernah mencoba Anda tidak pernah bisa sukses".
Semoga bermanfaat dan memberi Anda inspirasi. Artikel diambil dari Harian Bernas.
